http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=779
:wong-fei-hung-ternyata-ulama-dan-pendekar-sekaligus-tabib&catid=43:siro
h&Itemid=161
Wong Fei Hung Ternyata Ulama dan Pendekar Sekaligus Tabib
Senin, 28 September 2009 18:43
Kombinasi
antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri
serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat
keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan
tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat
menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.Selama ini kita
hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once
Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan
oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong
Fei Hung?
Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan,
dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan
Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering
berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi
menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.
Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong)
dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan
dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga
merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila
di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.
Ayahnya,
Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan
tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu).
Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton
(ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang
menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong
Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan
Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya
kepada Wong Fei Hung.
Kombinasi antara pengetahuan ilmu
pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh
keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering
turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu.
Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan
Keluarga Wong.
Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan
pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu
membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu
setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak
pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama,
semua dibantu tanpa pamrih.
Secara rahasia, keluarga Wong
terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti
Ch'in yang korup dan penindas. Dinasti Ch'in ialah Dinasti yang
merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti
Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota
keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.
Wong Fei-Hung mulai
mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga
pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian
mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses
melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar
jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung
Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang
pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian
oleh pemerintahan Dinasti Ch'in pada 1734.
Hung Hei-Kwun ini
adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan
dinasti penjajah Ch'in yang datang dari Manchuria (sekarang kita
mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch'in tidak meminta
bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris,
Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil
mengusir pendudukan Dinasti Ch'in.
Setelah berguru kepada Luk
Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga
pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan
beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih
maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil
membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan
Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan
tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam
senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata
kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang
tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan
berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela
rakyat miskin yang akan mereka peras.
Dalam kehidupan keluarga,
Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya
terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong
Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia
pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk
hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang
perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini
kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan
turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan
suaminya.
Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun.
Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai
pahlawan pembela kaum mustad'afin (tertindas) yang tidak pernah gentar
membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang
menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan
keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan
nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia,
salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim
selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah
Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi
muslim yang hidup setelahnya. Amiin. (kaskus.us)
0 Response to "wong fei hung"
Post a Comment